Kami Perantau Jawabarat

"Cari uang sampai kami membeli katana long BRI harga gorengan."

Bab 1 — Jalan yang Tidak Pulang

Langit Bandung sore itu berwarna abu-abu. Aku, Dadan, dan Ujang berdiri di terminal dengan tas lusuh dan mimpi yang terlalu besar untuk ukuran kantong kami. Kami berasal dari gang kecil di Jawa Barat, tempat suara motor knalpot lebih sering terdengar daripada suara cita-cita.

“Kalau tetap di sini, hidup kita bakal begini terus,” kata Dadan sambil menyalakan rokok murah. Aku hanya diam memandangi bus malam yang akan membawa kami pergi jauh.

“Perantau bukan pergi karena ingin meninggalkan rumah. Mereka pergi karena rumah tidak lagi mampu memberi harapan.”

Malam itu kami berangkat menuju kota pelabuhan. Tidak ada yang tahu apa yang menunggu di depan. Yang kami tahu hanya satu: kami harus mencari uang.

Bab 2 — Hidup Seharga Gorengan

Hari-hari pertama terasa berat. Kami tidur di kontrakan sempit yang dindingnya lembap dan kipasnya hanya berputar setengah hati. Kadang makan cuma nasi dan gorengan lima ribu.

Dadan bekerja di bengkel, Ujang jadi kuli angkut, sementara aku menjaga warung internet sampai pagi. Kami bekerja tanpa banyak bicara.

Setiap malam kami berkumpul di depan minimarket sambil menghitung uang receh. Namun anehnya, di tengah miskin yang menggigit, kami masih bisa tertawa.

“Kadang yang membuat manusia bertahan hidup bukan uangnya, tapi teman seperjuangannya.”

Bab 3 — Suzuki Katana Long BRI 1997

Suatu malam setelah pulang kerja, Ujang datang dengan wajah penuh semangat. Tangannya memegang koran bekas yang sudah lecek. Ia duduk di lantai kontrakan lalu menunjuk sebuah iklan kecil yang hampir tidak terlihat.

“Lihat ini,” katanya. “Suzuki Katana Long BRI 1997. Dijual murah.”

Aku dan Dadan langsung mendekat. Di dalam iklan itu ada foto mobil kotak berwarna hijau tua dengan ban lumpur besar. Mobil itu terlihat tua, catnya kusam, dan lampunya sedikit retak. Tapi entah kenapa, aura mobil itu berbeda.

Suzuki Katana Long BRI memang terkenal di kalangan perantau dan pekerja lapangan. Dulu mobil itu sering dipakai untuk masuk ke daerah pelosok. Jalannya kecil, berbatu, bahkan berlumpur. Namun mobil itu tetap kuat berjalan seperti banteng tua yang tidak pernah menyerah.

“Bayangin kalau kita punya mobil itu,” kata Dadan. “Kita nggak bakal kehujanan lagi naik motor tua.”

Aku tersenyum kecil. Selama ini mimpi kami sederhana. Punya tempat tinggal layak. Bisa makan tanpa menghitung uang receh. Dan mungkin suatu hari punya kendaraan sendiri.

“Bagi orang kaya, mobil tua mungkin cuma barang rongsokan. Tapi bagi perantau miskin, itu bisa menjadi simbol kemenangan.”

Sejak malam itu, Suzuki Katana Long BRI 1997 menjadi topik utama setiap kami berkumpul. Kami mulai menabung lebih keras. Tidak ada lagi kopi mahal. Tidak ada lagi nongkrong tidak jelas. Semua uang kami kumpulkan sedikit demi sedikit.

Hidup tetap keras. Kadang kami hanya makan nasi dengan gorengan. Kadang harus tidur cuma tiga jam karena pekerjaan. Namun setiap kali lelah datang, kami selalu mengingat mobil itu.

Di kepala kami, Suzuki Katana Long BRI bukan sekadar kendaraan. Itu lambang bahwa kami berhasil melewati hidup yang dulu terasa mustahil.

Bab 4 — Kota, Luka, dan Harapan

Tahun demi tahun berlalu. Kota pelabuhan itu mengubah kami menjadi manusia yang lebih keras. Tangan kami mulai kasar. Mata kami mulai terbiasa begadang. Dan hati kami mulai kebal terhadap hinaan.

Aku masih bekerja menjaga warnet malam. Dadan pindah kerja menjadi sopir angkut. Sedangkan Ujang mulai ikut proyek bangunan. Upahnya memang tidak besar, tapi cukup untuk membantu tabungan kami.

Suatu malam hujan deras mengguyur kota. Atap kontrakan bocor di mana-mana. Kami duduk sambil menaruh ember di bawah tetesan air.

“Kalau nanti mobil itu jadi milik kita, kita pulang ke Jawa Barat rame-rame,” kata Ujang. “Biar orang kampung tahu kalau kita nggak gagal.”

Tidak ada yang menjawab. Tapi dalam diam, kami semua memikirkan hal yang sama. Kami ingin pulang dengan kepala tegak.

“Orang miskin tidak takut capek. Yang mereka takutkan hanyalah pulang tanpa membawa perubahan.”

Beberapa bulan kemudian kami akhirnya berhasil menemui pemilik Suzuki Katana Long BRI 1997 itu. Mobilnya diparkir di sebuah gudang tua dekat pelabuhan.

Ketika mesin mobil itu dinyalakan, suaranya berat namun gagah. Lampu depannya masih menyala terang. Joknya memang sudah robek, tapi rangkanya masih kuat.

Aku memegang setir mobil itu perlahan. Rasanya seperti menyentuh mimpi yang selama ini hanya ada di kepala.

Pemiliknya tertawa melihat kami. “Kalian serius mau beli mobil tua beginian?” tanyanya.

Dadan menjawab cepat. “Buat bapak mungkin cuma mobil tua. Tapi buat kami, ini hasil perjuangan.”

Setelah negosiasi panjang, akhirnya harga disepakati. Kami mengeluarkan seluruh tabungan yang sudah dikumpulkan bertahun-tahun. Uang receh, uang lembur, bahkan uang hasil menahan lapar.

Dan malam itu, Suzuki Katana Long BRI 1997 resmi menjadi milik kami.

Bab 5 — Mesin Tua dan Jalan Pulang

Hari pertama memakai mobil itu terasa seperti mimpi. Kami mencuci bodinya bersama-sama di depan kontrakan. Anak-anak sekitar ikut melihat sambil kagum.

Meski tua, mobil itu tetap terlihat gagah. Ban besarnya membuatnya tampak siap melewati jalan apa pun. Kami bahkan menempelkan stiker kecil bertuliskan “Perantau Jawabarat” di kaca belakang.

Malam hari kami berkeliling kota tanpa tujuan. Angin laut masuk lewat jendela. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami merasa hidup sedikit lebih ringan.

“Dulu kita cuma makan gorengan sambil mimpi,” kata Dadan sambil tertawa. “Sekarang kita punya Katana Long BRI.”

Aku memandang jalanan kota yang basah oleh hujan. Perjalanan kami memang belum selesai. Kami masih harus bekerja. Masih harus bertahan. Tapi setidaknya kami sudah membuktikan sesuatu.

“Mimpi besar tidak selalu dimulai dari tempat mewah. Kadang ia lahir dari kontrakan sempit, gorengan murah, dan orang-orang yang menolak menyerah.”

Beberapa minggu kemudian kami akhirnya pulang ke Jawa Barat menggunakan mobil itu. Jalan panjang terasa penuh kenangan. Kami melewati gunung, sawah, dan kota-kota kecil yang dulu hanya kami lihat dari kaca bus.

Ketika sampai di kampung, orang-orang langsung melihat ke arah mobil kami. Anak-anak kecil berlari mengikuti. Tetangga keluar rumah.

Ibuku menangis ketika melihat kami turun dari mobil. Bukan karena mobilnya mewah. Tapi karena akhirnya kami pulang dalam keadaan berhasil bertahan hidup.

Malam itu kami duduk di depan rumah sambil memandang Suzuki Katana Long BRI 1997 yang terparkir di bawah lampu jalan. Catnya memang sudah tua. Mesin kadang masih batuk-batuk. Namun bagi kami, mobil itu adalah bukti bahwa perjuangan tidak pernah sia-sia.

Kami hanyalah perantau dari Jawa Barat. Anak-anak biasa yang dulu pergi membawa tas lusuh dan mimpi terlalu besar. Tapi hidup mengajarkan satu hal penting: selama manusia masih mau berjalan, harapan tidak akan pernah benar-benar mati.

Bab 6 — Kami yang Masih Berjalan

Tahun demi tahun berlalu. Kami mulai mengenal kerasnya dunia. Ada teman yang ditipu, ada pekerjaan yang tidak dibayar, ada malam ketika kami hanya tidur beralas kardus.

Namun kami tetap bertahan. Sedikit demi sedikit uang terkumpul.

“Orang miskin tidak takut capek. Yang mereka takutkan hanyalah pulang tanpa membawa perubahan.”

Sampai akhirnya suatu malam, kami kembali ke pasar itu. Katana panjang itu masih ada.

Penjualnya tersenyum ketika melihat kami datang bersama. Dengan uang hasil kerja keras bertahun-tahun, kami membelinya.

Bab 5 — Kami yang Masih Berjalan

Katana itu kini tergantung di kontrakan kecil kami. Bukan sebagai simbol kekerasan, melainkan pengingat bahwa kami pernah menjadi anak-anak rantau yang bertahan hidup dengan gorengan dan mimpi.

Kami belum kaya. Bahkan hidup masih sering sulit. Tapi setidaknya kami tahu satu hal: perjuangan tidak pernah sia-sia.

“Kami mungkin hanya perantau dari Jawa Barat. Tapi mimpi kami lebih panjang daripada jalan pulang.”